MY TRUE STORY FOR YOU, IELTS HUNTER! “Antara Nekat dan Tekad”

Agung Prasetyo
7 min readJul 13, 2019

--

Bismillahirahmanirrahiim…Hai anak muda dan para pembaca dari seluruh penjuru dunia, haha… Salam kenal dan salam hangat. Istilah “time flies so fast” memang terasa nyata bagi diri ini, sepertinya baru kemarin masuk kuliah tapi faktanya sekarang udah ngerasa ga muda-muda amat lah ya -_-. Tulisan ini dibuat untuk memenuhi nazar saya yaitu jika berhasil mendapat skor IELTS yang diharapkan, maka saya akan menulis dan menyebarkan pengalaman yang sudah saya lalui dengan harapan dapat menginspirasi dan menjadi bahan pertimbangan bagi siapa saja yang pengen, mau dan akan mengambil official test IELTS untuk mengejar cita-cita yang mulia.

Berawal dari keinginan besar anak desa yang bermimpi mau “study overseas” untuk jenjang master, setelah membaca segala persyaratan dan disortir sedemikian rupa, salah satu pamungkasnya adalah qualifikasi bahasa inggris untuk melanjutkan studi di negara-negara dengan bahasa pengantar kuliah menggunakan bahasa tersebut. Umumnya, syarat minimal yang dibutuhkan adalah IELTS 6.5/TOEFL IBT 90/TOEIC/ dst. yang saya juga lupa angka pastinya. Tapi secara umum, TOEFL atau IELTS yang paling banyak dikejar di Indonesia. FYI, awalnya saya tidak tau menau samasekali tentang IELTS itu apa, bahkan tes TOEFL hanya pernah yang jenis prediksi. Bermodal browsing sana sini, ternyata menurut saya IELTS lebih memikat hati (ini cocok-cocokan lah ya). Sebenarnya sama saja, cuma kalau TOEFL yang bisa dipakai abroad biar aman harus yang Internet Based Test yang harga tesnya kurang lebih sama mahalnya dengan IELTS (hampir 3 jutaan), karena paper based test (skor 310–677) yang umum dipakai di tahun-tahun kebelakang nampaknya sudah jarang diterima oleh sebagian besar universitas di luar sana.

Well, suddenly tanpa tau lebih dalam saya pertamakali yakin dan memutuskan hubungan dengan TOEFL, untuk kemudian terjun payung nyemplung ke IELTS pada bulan Januari 2017. Anggap saja karena wangsit lah ya haha. Setelah Januari saya memutuskan dia (red: TOEFL), saya memang punya rencana kursus IELTS khususnya ingin datang langsung ke kampung Inggris yang terkenal itu. Untuk basic English sendiri, saya menyesal karena waktu kecil susah dan bandel kalo disuruh kursus, lebih enak main sih (pada waktu itu). Jadi saya hanya belajar bahasa inggris di bangku sekolah dengan para guru terbaik bagi saya. Saat kuliah memasuki semester akhir, pernah juga kursus tapi hanya sempat sekitar satu bulan di WE English Kampung Inggris Bandung (Jl. Gegerkalong Girang) karena baru mulai merasa pentingnya belajar English lagi -_-. Disitu saya belajar conversation sambil kuliah untuk membiasakan penggunaan bahasa inggris (lagi). Saya sadar kalau waktu saya sangat sedikit, dasar bahasa inggris masih jelek, dan mau ambil tes IELTS langsung pula, hmm berat. Tapi berkali-kali saya buang jauh-jauh kata “tidak mungkin” atau “nyerah aja ah”. Ini baru salah satu syarat, gimana bisa sekolah di luar negeri, kalau ini aja gabisa tembus. Jadi, saya bertekad melanjutkan kenekatan ini.

Pada bulan Januari saya juga harus menyelesaikan ujian sidang skripsi S1 dengan segala revisinya, jadi saya baru mulai mencari lembaga kursus dan memutuskan untuk ikut kelas tanggal 10–25 Februari (kelas 2 minggu). Ya, hanya bisa 2 minggu karena awal Bulan Maret saya harus menghadiri Musyawarah Mahasiswa gitulah, some of my responsibilities that have to be completed till the end, hehe. Alhasil, saya ambil 4 kelas waktu itu di lembaga Global English Pare, yaitu Writing for IELTS, Speaking for IELTS, Grammar for IELTS dan Grammar for Writing. Satu hari masuk 4 kali dikelas-kelas tersebut selama 2 minggu. Sebenernya sih, katanya dan banyak orang bilang kalau mau masuk kelas IELTS di Pare harus dari basic-basic nya dulu (ada yang bilang seenggaknya 2,3,4 bulan dan seterusnya). Iyasih, sangat disarankan seperti itu, tapi mengingat saya mau coba ikutan suatu beasiswa yang deadline nya beberapa bulan lagi, semua kemampuan dan the power of kepepet dikeluarin saat pre-test sebelum pilih programnya dan untungnya berhasil diizinin masuk kelas IELTS :D.

Selama 2 minggu, sebagian kendala yang saya hadapi sebagai orang yang sangat awam adalah tutor kelas IELTS cenderung tidak akan menjelaskan teori dasar apapun saat membahas baik itu writing, speaking, reading dan listening karena kita sudah dianggap paham basic bahasa Inggris jika memasuki kelas ini. Untuk menutupi kesenjangan itu, terutama saya agak sensi dengan grammar, jadi autodidak adalah keharusan. Saya menggunakan buku TOP GRAMMAR (belinya di Toko Buku Berkah di Jl. Mawar, Pare). Sebenarnya ada banyak macem jenis dan penulisnya, tapi buku ini menurut saya lebih berwarna dan enak dibaca jd saya pilih hehe. Dikelas, saya dapet banyak ilmu dan jadi tau lebih dalem apa itu IELTS bahkan salah satu tutor yang cukup kompeten karena sering cerita based on experience saat itu adalah Mr. Dhanu. Ingin rasanya lama-lama di Pare mumpung ketemu tutor yang pas, tapi waktu belum mengizinkan.

February had passed, Maret saya sudah ada agenda dan April adalah wisuda. In other words, cuma bisa balik lagi ke pare setelah wisuda di bulan April. Biar lebih greget saya jelasin betapa deadline mengintai diri ini. Kita mulai dari batas terakhir pengumpulan berkas beasiswa adalah awal Juli, sedangkan tes IELTS membutuhkan waktu 13 hari untuk release hasilnya. Di sisi lain, persyaratan seperti surat sehat, bebas narkoba dari RS, surat rekomendasi dosen, dan lainnya juga harus sudah lengkap sebelum deadline datang. Eventually, saya dengan nekat mendaftarkan diri ke British Council Indonesia untuk tes di Bandung di tanggal 3 Juni 2017. Maksudnya biar pertengahan Juni keluar hasilnya jadi siap dikirim sebelum deadline beasiswa. Padahal, waktu belajar IELTS cuma bisa kurang lebih SATU BULAN lagi. Temen-temen di Pare sering bilang, kalau tes ya harus udah siap, atau 3 juta melayang -___-. Berharap keajaiban mengiringi, itu saja pikiran saat itu. Saya balik lagi ke Pare dan ambil program tanggal 25 April — 25 Mei.

Global English masih jadi pilihan saya, belum bisa move on haha. Niat bulet mau ambil kelas super camp biar ekstra intensif, tapi program itu cuma ada setiap periode tanggal 10. OMG I have no additional time, 3rd June will face me very soon! Jadi, strateginya yang saya ubah, saya ambil kelas reguler yang biasanya 3 kelas sehari di minggu pertama, dan 2 kelas sehari di minggu kedua, saya tambah jadi 5 kelas per hari untuk 1 bulan. Saya ambil kelas writing, reading, listening dan speaking untuk IELTS. Dengan catatan, autodidak dan latihan-latihan mandiri tetep jalan. Untuk itu, saya beli buku Barron IELTS 2nd Edition (untuk latihan listening dan reading), karena writing dan speaking menurut saya sih wajib ada orang yang membimbing dan mengkoreksi supaya maksimal. Selain itu, saya mendownload beberapa aplikasi di Android seperti Complete IELTS, IELTS NGO bach, PODCAST, English Grammar dan aplikasi lain. Percayalah, it works untuk ngebantu improve your English karena bisa dibuka dimanapun (di kereta, bus, dan waktu luang lain).

Menjelang satu bulan kursus di Pare, saya menemukan tutor yang menurut saya pemahaman IELTS nya udah sangat dalem. Namanya Mr. Alex, metodenya di kelas reading sangat memacu jiwa-jiwa yang susah konsentrasi haha. Karena di kelas setiap latihan soal, minimal skor yang ditargetkan adalah 6.5 maka dari 40 soal harus mengandung 26 jawaban benar. Jika tidak, dia menyuruh kami para IELTS hunter untuk stand up dan kembali mencari jawaban sampai mencapai minimal jawaban benar. Walau waktu kelas habis, gapeduli… Mau sampe sore berdiri juga ditungguin katanya, sadis… wkakak. Tapi justru itu, sebagian teman-teman, termasuk saya ingin mengajak Mr. Alex untuk membuka kelas privat. Akhirnya, setelah disetujui saya ambil kelas speaking, writing task 2 dan reading secara privat.

Unfortunately, waktu yang saya punya tinggal 1 minggu menuju hari kepulangan saya yaitu 25 Mei dan harus menghadapi real test nya di 3 Juni. Saya belajar lebih banyak hal mendalam dan detil tentang IELTS, segalanya coba saya cerna diwaktu yang sangat amat singkat. Untungnya, banyak teman yang satu visi, jadi atmosfir semangat ga berasa luntur samasekali. Pergi pagi pulang malem, ditambah nonton TEDx di youtube serta denger podcast saat waktu luang are highly recommended kalo posisinya dikejar deadline begini.

Time flies so fast (lagi), waktu saya habis. Pulang, persiapkan kesehatan dan mental adalah keharusan juga. Percuma kan secara teori dan materi siap kalau kondisi saat tes nya drop, gugup, atau bahkan blank! Oleh karenanya, saya buat juga strategi 1 minggu sebelum tes adalah waktu pengendapan materi didalam otak sekaligus persiapan kesehatan untuk performa terbaik! Setelah sesi raingkaian tes ditengah bulan puasa dan sabar menunggu hasil, Alhamdulillah segala puji bagi Allah, hasil yang saya dapatkan lebih dari cukup. Ditengah cerita-cerita horror susahnya IELTS, saya merasa dapet 6.5 itu udah ajaib… Tapi, yang diatas ngasih yang lebih dari cukup. Sehingga saya merasa sangat egois kalau ga bagi-bagi pengalaman perjuangan ini. Well, Overall Band Score saya 7.0. Standar universitas-universitas luar negeri biasanya mulai dari 6.0, 6.5, 7.0, hingga diatas 7.5 untuk universitas top 10 dunia. Sementara syarat minimum pada beasiswa yang saya apply adalah 6.5.

Sekali lagi saya sangat bersyukur, karena orang bilang usaha tak menghianati hasil boleh dibilang real! Kalau boleh saran sedikit, berdasarkan yang saya alami, untuk temen-temen yang punya target menaklukan IELTS, rencanakanlah dengan baik, waktu terus berjalan, mulailah susun waktu dan disiplin dengan diri sendiri. Setelah itu kerjakan apa yang direncanakan, tak masalah bila ada yang mencemooh atau meremehkan, karena disitulah nikmatnya proses. Segera koreksi diri dan perbanyak belajar lagi. Jangan lupa berdoalah setelah kedua hal tadi sudah dilakukan. Jangan lupa juga kalau restu orang tua adalah kunci, karena ridho mereka adalah ridho Tuhan.

Finally, saya doakan para pembaca sekalian bisa menjalankan rencana dan mencapai cita-cita yang diinginkan. Aamiin. Mari bersemangat untuk membangun bangsa ini. Saya juga mohon doanya dari rekan-rekan sekalian supaya mimpi saya ngerasain kehidupan di negara 4 musim setahun bisa terwujud (ndeso memang ya). Untuk kondisi saat real test dan tipe-tipe soal yang keluar, jika ada yang tertarik dan cukup waktu akan saya buat cerita lagi. Terimakasih sudah menyimak pengalaman kecil saya, niat saya adalah untuk memacu semangat siapa saja supaya tidak lekas menyerah dengan perjuangannya terutama untuk menaklukan IELTS. Impossible? It is nothing, just say to yourself that I am possible!
SEMANGAT!!!

Catatan ini dibuat pada hari Kamis, 29 Juni 2017 dan dipublikasikan melalui Facebook pribadi.

--

--